fbpx
edccash dalam islam

EDCCASH dalam Pandangan Islam

Cryptocurrency adalah mata uang digital yang kini marak keberadaannya dengan adanya gerakan cashless di Indonesia. Keuntungan cryptocurrency adalah mata uang ini tidak dapat dipalsukan dan sekarang merupakan salah satu alternatif pembayaran di dunia. Banyak perusahaan besar berlomba-lomba menjajakan jenis aset digital ini. Salah satunya yang dibahas di sini adalah edinarcoin atau edc blockchain.

Baca disini : Apa itu edccash dan edc blockchain

Namun, bagaimana hukumnya jika kita melakukan transaksi jual beli menggunakan koin digital ini? Bagaimana pandangan para ulama mengenai ini? Pastinya masih banyak pertanyaan mengenai sah tidaknya transaksi anda dalam islam.

Era Transaksi Saat Ini, Bahwa Cryptocurrency Sesuai Ketentuan Ajaran Islam

Bru-nO / Pixabay

Jual beli adalah proses tukar menukar harta (apapun bentuknya) yang dilakukan dengan keinginan tanpa adanya paksaan dengan imbalan tertentu. Proses jual beli ini biasanya menggunakan barang konkrit untuk melakukan transaksinya. Era modern ini telah berkembang pesat less-money yang membuat masyarakat perlahan-lahan beralih transaksi dengan menggunakan uang kertas dan logam. Beredar di masyarakat pembayaran elektronik dengan menggunakan electronic money maupun dengan aset digital seperti bitcoin.

Bitcoin sendiri adalah mata uang digital yang tersebar dalam jaringan peer-to-peer yang tersebar di seluruh dunia. Jaringan ini dianalogikan dengan buku akuntansi besar bernama Blockchain yang dapat diakses oleh publik, dimana didalamnya tercatat semua transaksi yang pernah digunakan oleh pengguna bitcoin, termasuk saldo tiap pengguna (forumbitcoin.co.id). Jaringan peer-to-peer sendiri adalah teknologi sharing resource dan service antara satu komputer dengan komputer lain yang dapat diakses oleh semua pengguna komputer tanpa harus melakukan registrasi.

Bitcoin telah digunakan oleh banyak orang dengan kegunaan yang beragam salah satunya adalah bisnis. Bisnis yang berkembang dengan mengandalkan bitcoin antara lain adalah bisnis restoran, apartemen, firma hukum, dan masih banyak lagi. Bahkan per Agustus 2013 nilai total bitcoin mencapai 1,5 milyar dolar AS dengan transaksi senilai jutaan dolar setiap harinya.

Sedangkan EDC Blockchain adalah salah satu aset digital yang dirilis pada tahun 2015 dan berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Tentunya anda penasaran bagaimana pandangan islam mengenai fenomena Crypto khususnya dalam EDCCASH. EDCCASH yang merupakan aset digital yang mudah diperjualbelikan karena aset digitalnya telah disetujui oleh banyak pihak, bahkan di lebih dari 50 negara.

Hal yang membuat EDCCASH nyaman dipilih oleh orang-orang adalah karena sistemnya yang menggunakan fix rate atau nilai jual – beli yang tetap. Berbeda dengan cryptocurrency di market global yang nilainya sangat berfluktuasi. Ini menjadi poin tambahan juga bahwa regulasi di EDCCASH tidak melanggar aturan dalam islam.

Sebab di EDCCASH rate nya adalah tetap, dan tidak berbunga layaknya perbankan. Melainkan adalah hasil mining yang didapat dari hasil penambangan mengikuti kaidah blockchain.

Aturan Jual Beli dalam Islam

erik_stein / Pixabay

Islam pastinya telah membuat aturan dalam jual beli yang tertuang dalam rukun jual beli antara lain, aqidain (dua orang yang berakad baik membeli maupun menjual), objek jual beli, ijab qabul, nilai tukar pengganti barang. Rukun jual beli itu harus dipenuhi, untuk transaksi menggunakan EDCCASH selama memenuhi rukun jual beli. Selain itu, adanya syarat jual beli antara lain adalah barang yang digunakan harus jelas, kepemilikan jelas, dan juga diserahkan langsung setelah akad.

Secara fiqh EDCCASH bisa disebut aset berupa koin karena memiliki nilai tukar yang real. Seperti dijelaskan pada hadist berikut, “Jika emas dibarter dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum bur (gandum halus) ditukar dengan gandum bur, gandum syair (kasar) ditukar dengan gandum syair, korma ditukar dengan korma, garam dibarter dengan garam, maka takarannya harus sama dan tunai. Jika benda yang dibarterkan berbeda maka takarannya boleh sesuka hati kalian asalkan tunai” (HR. Muslim 4147).

Keenam benda ribawi berikut dibagi manjadi 2 kelompok yaitu kelompok pertama emas dan perak, dan kelompok kedua adalah bahan makanan yang disimpan seperti bur, sya’ir, kerma, dan garam. Fokus pada emas dan peraknya sebagai aset. Emas dan perak memiliki nilai riba karena fungsinya adalah nilai tukar dan sebagai nilai ukur benda lainnya. Ulama-ulama seperti Maliki, Syafi’I, dan Hambali menegaskan alasan berlakunya riba dikarenakan fungsinya sebagai nilai tukar dan dan alat ukur harta benda.

Bahkan pernah diceritakan ketika Ummar bin Khattab akan membuat uang dengan kulit unta ditakutkan unta akan punah sehingga beliau mengurungkan niatnya. Khawatir akan membuat unta punah dan memiliki masalah lain seperti tidak termanfaatkannya daging unta dan juga sayang sekali untuk membunuh unta hanya karena akan diambil kulitnya. Meskipun tidak jadi membuat uang dengan kulit unta tidak menutup kemungkinan adanya mata uang lain selain emas dan perak.

“Andaikan orang-orang membuat uang dari kulit dan dijadikan alat tukar oleh mereka, maka saya melarang uang kulit itu ditukar dengan emas dan perak dengan cara tidak tunai”. (Al-Mudawwanah Al-Kubra, 3/90).

Uang dan aset digital memiliki nilai sebagai alat tukar karena adanya kesepakatan

WorldSpectrum / Pixabay

Selain itu juga sebagian ulama berkata, “Uang adalah suatu benda yang disepakati oleh para penggunanya sebagai (alat tukar), sekalipun terbuat dari sepotong batu atau kayu”. (Majmu’ Fatawa, 19/251).

Cryptocurrency adalah aset berupa coin di dunia digital. Aset digital ini meskipun bentuknya tidak sama dengan mata uang lainnya, namun dilihat dari sisi nilai yang dipertanggungkan statusnya sama. Sehingga aset digital ini dihukumi sebagai ‘umlah (mata uang) yang bisa disimpan. (Fatawa Islam, No. 219328)

Uang sendiri adalah salah satu alat pembayaran yang sah. Tentunya uang sendiri sudah diatur dalam pembuatannya. Hanya Bank Indonesia yang boleh membuat mata uang rupiah di Indonesia. Uang kertas dan logam saat ini digunakan hakikatnya bukan menggantikan emas dan perak melainkan karena jumlah kertas dan logam yang banyak maka kertas dan logam layak menjadi salah satu alat pembayaran. Bahkan menurut ulama, “Uang adalah suatu benda yang disepakati oleh para penggunanya sebagai alat tukar sekalipun merupakan sepotong batu dan kayu”. (Majmu’ Fatawa, 19/251) Ini juga berlaku pada E-dinnar yang telah disepakati menjadi salah satu aset digital di dunia maya yang berupa cryptocurrency.

Uang sebaiknya merupakan benda yang tahan lama seperti uang kertas dan logam, ataupun memiliki lisensi jika merupakan aset.

Hingga saat ini keberadaan koin digital sebagai aset digital di dunia maya oleh Islam masih disahkan dan diperbolehkan menjadi alat tukar. Aset digital adalah aset bernilai tanpa wujud fisik. Jika dilihat dari sisi dipertanggungjawabkannya sama meskipun bentuknya tidak sama.

Sehingga aset digital memiliki hukum sebagai ‘umlah yang bisa disimpan. (Fatawa Islam, no. 219328). Dan juga, Siapa yang memiliki cryptocurrency itu dengan cara yang disyariatkan (mubah), maka tidak masalah untuk dimanfaatkan, untuk keperluan yang mubah. (Fatawa Syabakah Islamiyah no. 251170)

Aset Digital Tetap Memiliki Aturan dalam Transaksi

geralt / Pixabay

Pastinya ada aturan dalam pembelian Bitcoin. Jika membeli dengan rupiah tentunya anda harus membayar sejumlah uang untuk menukar uang anda dengan aset digital ini. Sistem yang sama juga ketika anda menukarkan uang dengan mata uang asing yang memiliki nilai yang berbeda. Hal ini juga berlaku pada bitcoin. Saat ini, harga bitcoin sudah mencapai lebih dari 100 Juta rupiah untuk per koinnya.

Ada 2 cara untuk menukarkan uang, yang pertama adalah dengan barang yang sejenis tentunya dengan kualitas dan kuantitas yang sama. Namun, jika barang tidak sejenis maka harus dalam satu kelompok. Selain itu, yang harus diperhatikan lagi adalah pembayaran dilakukan secara tunai. Ada uang, ada barang. Jangan sampai tertunda-tunda.

Dalam transaksi mata uang, harus ada serah terima (taqabudh) dan sama kuantitas jika jenisnya sama. Dan disyaratkan harus taqabudh, meskipun boleh tidak sama kuantitas, jika beda jenis. Dan taqabudh bisa dilakukan secara haqiqi (ada uang, ada bitcoin yang bisa diterima), bisa juga secara status (hukmi). (Fatawa Syabakah Islamiyah no. 251170)

Sekian penjelasan terkait EDCCASH dan hukum dalam Islam. Jika kamu ingin bergabung atau tanya-tanya silahkan klik tombol whatsapp dibawah ini

Chat Admin Whatsapp

Klik Disini ×

Sudah member

Sudah member (wajib diisi)

Baca juga artikel lain :

>> Cara daftar EDCCASH

>> Testimoni Pengguna EDCCASH

>> Cara kerja blockchain dan Cryptocurrency

Share on whatsapp
Whatsapp
Share on telegram
Telegram
Share on facebook
Facebook
Share on email
Email

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top